Cacabean

Ludwigia octovalvis (Jacq.) P.H.Raven

Onagraceae

Lokasi di kebun Utama

Ringkasan

Cacabean (Ludwigia octovalvis) adalah herba tegak setinggi hingga 4 meter dari famili Onagraceae, gulma pantropis yang tersebar di hampir seluruh daerah tropis dunia hingga asal-usul pastinya sulit dilacak. Di India dan Semenanjung Malaysia, lendir daunnya dipakai sebagai tapal untuk sakit kepala dan kelenjar bengkak. Cacabean juga berpotensi sebagai tanaman fitoremediasi penyerap arsenik dan logam berbahaya.

Agroekologi

Cacabean dapat ditemukan di seluruh daerah tropis, pada ketinggian mulai dari permukaan laut sampai hingga 1.500 m dpl. Biasanya tumbuh di tanah basah dan air dangkal, di daerah lembap, padang rumput lembap, sawah, sepanjang parit, rawa-rawa, kolam, dasar sungai, pulau-pulau terapung, danau, dan di perkebunan kelapa. Tanaman ini menyukai sinar matahari penuh (sekitar 6-8 jam per hari) dan mentolerir tidak lebih dari naungan samping, serta kebutuhan akan air dalam rentang yang tinggi.

Morfologi

  • Akar tunggang, berwarna putih atau cokelat.
  • Batang hijau atau merah kecokelatan, bercabang, berbulu, berusuk, terkadang menjadi berkayu di bagian dasarnya.
  • Daun tersusun berseling, berwarna hijau muda, dapat berubah menjadi merah saat tua, berbentuk lanset sempit sampai bulat telur, menyempit atau meruncing di pangkal dan ujung daun, berbulu seperti beludru di kedua sisi, tangkai daun pendek.
  • Bunga memiliki 4 helai kelopak, berbentuk bulat telur, tabung kelopaknya ramping. Helai mahkota berjumlah 4-5, berbentuk bulat telur yang tersusun dalam pola seperti silang, ujung petal terkadang terlipat ke bawah, membentuk lekukan besar seperti takik. Mahkota memiliki venasi cekung yang berbeda yang menciptakan permukaan bergelombang, berwarna kuning pucat sampai kuning cerah. Benang sari berjumlah 8, berwarna kuning kehijauan pucat. Bunga muncul secara tunggal di ketiak daun dan di ujung cabang.
  • Buah berbentuk kapsul berusuk 8, berdinding tipis, bersudut 4, silindris sempit, berbulu seperti beludru, warna bervariasi dari hijau ke pucat atau cokelat kemerahan atau keunguan, dengan 8 alur lebih gelap, pecah tak beraturan pada lokulanya.
  • Biji bulat, berwarna cokelat, tersusun dalam banyak baris pada masing-masing ruang.

Budidaya

  • Perbanyakan dilakukan secara generatif menggunakan biji. Penyebaran biji dilakukan oleh burung dan alat-alat pertanian yang digunakan untuk budidaya padi sawah.
  • Biji yang jatuh ke tanah dalam waktu 14 hari sudah berkecambah.

Kandungan Kimia

Alkaloid, tanin, saponin, phenol, steroids, beta-sitosterol, oleanolic acid, 2alpha-hydroxy ursolic acid, tormentic acid, daucosterol, maltol, methyl brevifolincarboxylate, 3, 4, 8, 9, 10-pentahydroxydibenzo[b,d]pyran-6-one, ellagic acid, luteolin, quercetin, apigenin, asam galat, (23Z)-coumaroylhederagenin, (23E)-coumaroylhederagenin, dan (3Z)-coumaroylhederagenin.

Khasiat

Mengobati diare, disentri, bisul pada hidung, orkitis (peradangan pada testis), kelenjar bengkak, penyakit saraf, meredakan sakit kepala, nyeri dada, nyeri rematik, menyembuhkan dermatitis, maag, impetigo, jerawat, memiliki aktivitas sebagai pencahar, vermifuge (obat cacing), karminatif (meredakan kolik angin dalam perut), analgesik (pereda nyeri), antibakteri, dan antioksidan.

 

Nama Lokal

Salah nyowo (Jawa), Gagabusan (Sunda), Kalamenja (Madura), Pangambo (Sumbawa Timur), Keletele tengen (Minahasa), Daun panu (Ambon), Lakum air, Jebungan.

Ramuan Tradisional

Ramuan berikut merupakan pengetahuan tradisional turun-temurun, bukan pengganti diagnosis atau saran medis profesional. Konsultasikan ke tenaga kesehatan sebelum digunakan.

Ramuan tradisional Meredakan sakit kepala dari Cacabean

1. Meredakan sakit kepala

  • Ambil daun cacabean secukupnya.
  • Cuci bersih dengan air mengalir.
  • Haluskan hingga menjadi pasta.
  • Oleskan pasta pada kening.

Sumber Referensi

  1. Yan J., Yang X.W. 2006. Studies on the chemical constituents in herb of Ludwigia octovalvis. China journal of Chinese materia medica 30(24): 1923-6 dalam https://www.researchgate.net/publication/7283309_Studies_on_the_chemical_constituents_in_herb_of_Ludwigia_octovalvis.
  2. Setyawati,T., Narulita, S., Bahri I.P., Rahardjo,G.T. 2015. A Guide Book to Invasive Alien Plant Species in Indonesia. Research, Development and Innovation Agency. Ministry of Environment and Forestry.
  3. CAB International. 2021. Invasive Species Compendium: Ludwigia octovalvis (primrose willow). https://www.cabi.org/isc/datasheet/31671#toPictures. 04-10-2021.
  4. Flora Fauna Web. 2020. Ludwigia octovalvis (Jacq.) P.H. Raven. https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/4/8/4862. 04-10-2021.
  5. Royal Botanic Gardens. 2021. Plants of the World Online: Ludwigia octovalvis (Jacq.) P.H.Raven. http://powo.science.kew.org/taxon/144385-2. 04-10-2021.
  6. Yakob H.K., Sulaiman S.F., Uyub A.M. 2012. Antioxidant and Antibacterial Activity of Ludwigia octovalvis on Escherichia coli O157:H7 and Some Pathogenic Bacteria. World Applied Sciences Journal 16 (1): 22-29.
  7. Useful Tropical Plants Database. 2021. Ludwigia octovalvis. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Ludwigia+octovalvis. 04-10-2021.
  8. PROSEA. 2016. Ludwigia octovalvis (PROSEA). https://uses.plantnet-project.org/en/Ludwigia_octovalvis_(PROSEA). 04-10-2021.
  9. Stuartxchange. 2018. Philippine Medicinal Plants: Malapako. http://www.stuartxchange.org/Malapako.html. 04-10-2021.