Matoa
Ringkasan
Pometia pinnata atau matoa adalah tanaman asli Papua yang selama ini lebih dikenal sebagai penghasil kayu komersial, meski sejak lama juga menghasilkan buah lokal favorit dengan cita rasa unik perpaduan rambutan dan kelengkeng. Produksi terbesarnya berasal dari Jayapura, dan kini buah matoa bahkan telah dikenal secara nasional sebagai komoditas yang menjanjikan. Di Kepulauan Pasifik, matoa juga lazim dipakai dalam pengobatan tradisional untuk meredakan sakit tulang, demam, dan berbagai keluhan lain.
Agroekologi
Matoa merupakan tumbuhan di dataran rendah tropis lembap, biasanya ditemukan pada ketinggian di bawah 500 m dpl, meskipun kadang-kadang ditemukan pada ketinggian 1.700 m dpl. Di daerah asalnya, matoa berhasil dengan curah hujan tahunan rata-rata dalam kisaran 1.500 - 5.000 mm, tanpa musim kemarau yang parah. Suhu rata-rata tahunan berkisar antara 22 - 28 °C, suhu maksimum rata-rata 25 - 32 °C dan toleransi minimum 5 - 16 °C. Lebih menyukai tanah yang dalam, subur, lembap dan posisi di bawah sinar matahari penuh atau teduh terang. Pohon ini ditemukan di berbagai tanah di daerah asalnya: di tanah kapur, tanah liat, berpasir atau lempung, sebagian besar di hutan lahan kering, kadang-kadang di rawa-rawa air tawar. Pohon yang tumbuh sangat cepat dengan pertambahan tinggi 1,7 m tercatat selama satu tahun.
Morfologi
- Akar memiliki sistem perakaran tunggang.
- Batang diameternya dapat mencapai hingga >100 cm, berbanir (akar papan) dengan tinggi hingga 5 m, berbatang lurus tetapi kadang-kadang terdapat pula batang bengkok dengan cabang banyak, bertajuk bulat dan tinggi bebas cabang pertama 18 – 30 m. Kulit luar yang mati tebalnya 0.2 -2 mm, berwarna kelabu muda sampai dengan coklat merah, kulit beralur dangkal dan mengelupas kecil-kecil.
- Daun majemuk berseling, bertangkai, yang panjangnya lebih dari 1 m. Setiap daun terdiri dari 4–15 pasang selebaran, dan tidak memiliki selebaran terminal. Selebaran tipis hingga kasar berbentuk telur hingga berbentuk drop, sedikit hingga jelas berbentuk sabit, merah saat muda, hijau tua di atas dan hijau muda di bawah saat dewasa, tidak berbulu hingga tertutup rambut, 6–40 kali 2–13 cm, dan dengan margin bergigi. Sepasang selebaran terendah lebih kecil dari yang lain, bulat, berbentuk telinga atau berbentuk bantal, 0,4–3 kali 0,3–5 cm, tampak seperti ketentuan, dan dengan salah satu selebaran berkurang.\
- Bunga tumbuhan berumah satu, menghasilkan bunga jantan dan betina pada individu yang sama. Bunganya berukuran sekitar 2–2,5 mm, umumnya berwarna putih hingga hijau-kuning, dan muncul pada tangkai bunga bercabang yang panjangnya 15–70 cm.
- Buah berdaging memiliki inti berbatu masing-masing, ellipsoid hingga bulat, 1,5–5 kali 1-3 cm, dan merah menjadi hitam saat matang.
- Biji berbentuk telur, sisinya tidak sama, hingga 2,5 kali 1,5 cm, berwarna cokelat, dan dengan penutup putih (aril).
Budidaya
Matoa sangat mudah dikembangkan melalui biji, namun kendalanya biji matoa tidak dapat disimpan dalam jangka panjang (recalcitrant) sehingga menyulitkan dalam usaha penyediaan benih. Biji matoa yang baru diambil dari pohon bila langsung ditanam akan berkecambah dengan baik, namun apabila disimpan dalam jangka satu minggu perkecambahan telah turun sangat drastis.
Kandungan Kimia
Alkaloid, saponin, tanin, triterpenoid, flavonoid, senyawa fenolik.
Khasiat
Digunakan untuk mengobati sakit tulang, sakit kepala migrain, membantu pengeluaran ari-ari setelah melahirkan, meredakan pegal linu pada otot dan persendian, meredakan demam, obat flu dan pilek, menyembuhkan diare, sakit perut, batuk, konstipasi, ruam popok, luka, mengobati ubun-ubun yang tidak tertutup, obat muntah untuk infeksi mulut, pilek dan kemacetan lendir, untuk mengobati sakit perut, mengobati kanker mulut. Memiliki aktivitas antimikroba, antibakterial, dan antioksidan.
Simplisia
- Ambil daun matoa segar secukupnya cuci dengan air mengalir sampai bersih.
- Keringkan pada suhu 30-60 °C.
- Haluskan menggunakan blender hingga menjadi bubuk.
- Simpan dalam wadah bersih dan kedap udara.
Nama Lokal
Ihi (Manikiong-Manokwari),Tien, Boeruat (Kebar-Manokawari), Mawai (Biak, Mangon, Mondek (Tehit_Sorong), Megaan, Mendek (Sorong) Tawan, Dar (Onim-Fakfak), dan Piediepik, Iniaopi (Yapen).
Ramuan Tradisional
Ramuan berikut merupakan pengetahuan tradisional turun-temurun, bukan pengganti diagnosis atau saran medis profesional. Konsultasikan ke tenaga kesehatan sebelum digunakan.
1. Demam
- Ambil daun matoa segar secukupnya cuci hingga bersih.
- Rebus hingga mendidih.
- Biarkan hangat/dingin.
- Saring lalu minum.
2. Mengobati luka
- Ambil kulit batang matoa secukupnya cuci hingga bersih.
- Haluskan hingga menjadi pasta.
- Oles pada luka.
Sumber Referensi
- Royal Botanic Gardens, Kew. Plants of the World Online: Pometia pinnata J.R.Forst. & G.Forst.. https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:784485-1#synonyms. 19-09-2022.
- CAB International. 2019. Pometia pinnata (fijian longan). https://www.cabi.org/isc/datasheet/42815. 19-09-2022.
- Flora Fauna Web. 2021. Pometia pinnata J. R. Forst. & G. Forst.. https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/3/0/3084. 19-09-2022.
- Useful Tropical Plants. 2022. Pometia pinnata. https://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Pometia+pinnata. 19-09-2022.
- Adisti Restina Poli, Dewa Gede Katja, Henry F Aritonang. 2022. POTENSI ANTIOKSIDAN EKSTRAK DARI KULIT BIJI MATOA (POMETIA PINNATA J. R & G. FORST). Vol 15, No 1 (2022). DOI https://doi.org/10.35799/cp.15.1.2022.43151. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/chemprog/article/view/43151.